Media dan Kekerasan Simbolik

Standard

         Oleh : Fitria Hariaty, Ilmu Komunikasi Unas (2012)

Saat kita membahas “kekerasan” dan “media” kita perlu meletakkannya dalam kerangka yang lebih luas. Kekerasan secara terminologi dimaknai sebagai “perlakuan dengan cara pemaksaan” maka apa pun bentuk perlakuan yang didalamnya melekat unsur-unsur pemaksaan, ia dapat dikatakan sebagai perlakuan kekerasan. Itulah sebabnya muncul istilah kekerasan simbolik (symbolic violence) dan bukan hanya kekerasan fisik; tidak cuma kekerasan benda melainkan juga kekerasan bahasa (language violence); tidak hanya kekerasan makna tetapi juga kekerasan citra (image violence). Dalam kaitan ini maka kekerasan simbolik sebagai fokus utama tulisan ini, selanjutnya menemukan tempatnya yang paling subur di dalam media sebab media memungkinkan terjadi berbagai bentuk kekerasan tak tampak (seperti distorsi, pelencengan, pemalsuan, plesetan)(Piliang, 2001:149).

Kasus yang paling pas untuk dijadikan contoh adalah kekerasan simbolik media yang sebagai kaki tangan penguasa dalam meliput kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo. Media-media yang dimiliki Grup Bakrie yang notabene pada masa itu adalah Menkokesra Aburizal Bakrie sekaligus pemilik PT Lapindo Brantas sekaligus orang terkaya itu menggunakan kata “lumpur Sidoarjo” bukan “lumpur Lapindo”. Continue reading