Liputan: Kurikulum Materi Perempuan, Seks dan Negara

Standard

Oleh: Teuku Ramzy Farrazy, Ilmu Hubungan Internasional Unas (2011)

Pada Rabu, 16 Desember 2015, Kelompok Studi Mahasiswa Universitas Nasional (KSM Unas) kembali mengadakan sebuah program kurikulum materi bertajuk “Perempuan, Seks dan Negara”. Program ini merupakan satu dari beberapa rangkaian kegiatan akademis untuk pendidikan calon anggota muda angkatan XVI. Program ini dimulai pada pukul 19.00 WIB dan difasilitasi oleh Teuku Ramzy Farrazy, anggota senior KSM Unas. KSM Unas sendiri merupakan organisasi kajian yang beranggotakan mahasiswa aktif Unas. Program ini secara khusus dibuat untuk mengemukakan isu ketimpangan gender di lingkungan Unas yang masih terbilang awam.

Program ini dimulai dengan pembahasan mengenai gender, seks dan seksualitas itu sendiri. Peserta yang berjumlah sekitar sepuluh orang terlihat amat bersemangat dalam mengikuti pembahasan. Sesi pertama adalah diskusi dan tanya jawab yang membahas mengenai peran Orde Baru dalam membentuk ibuisme negara, suatu konsep domestifikasi peran perempuan dalam  masyarakat Indonesia ke dalam lingkup rumah tangga saja. Sedangkan dalam ranah organisasi, perempuan Indonesia “dijinakkan” melalui Dharma Wanita. “Jadi, perempuan Indonesia pada zaman orde baru  identik dengan: dapur, sumur, kasur.” Terang Ramzy. Maka, tidak mengherankan ketika organisasi Gerwani dan segala hal yang terkait erat dengannya diberangus karena dianggap dapat berbahaya bagi hegemoni Orde Baru yang sangat patriarkis. Di era reformasi, kita masih melihat betapa perempuan masih dijadikan sebagai objek yang seksi bagi politik. Pada kasus Nikita Mirzani yang sedang anyar, perempuan dan seks dijadikan pengalihan isu nasional yang lebih besar: skandal papa minta saham yang melibatkan petinggi Freeport McMoran dan Ketua DPR Setya Novanto. Continue reading

Review Diskusi “Hubungan Bilateral RI – Australia” Oleh Michael York

Standard

Oleh: Teuku Ramzy, Ilmu Hubungan Internasional (2011)

Seorang pria muda berwajah bule tampak sendirian menunggu di dekat pos satpam Universitas Nasional (Unas). Mengenakan kaus dan celana jins serta sunglasses membuatnya tampak sedikit mencolok di tengah panasnya Unas pada sore itu. Saya pun segera menghampiri dan pria bule tersebut menyampaikan maaf karena terhadang kemacetan Jakarta yang menjadi  fenomena unik bagi ekspatriat sepertinya. Ya, Pada 29 September 2015 lalu, sekretariat KSM kedatangan seorang tamu yang cukup istimewa dari Negeri Kanguru. Adalah Michael York, merupakan alumni studi Hubungan Internasional dari University of West Australia, merampungkan S2 nya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan sekarang sedang menjalani program beasiswa belajar Bahasa Indonesia di Universitas Indonesia. Sebagai seorang akademisi sekaligus calon diplomat muda Australia yang akan bertugas di Indonesia juga tahun depan, bang Michael – begitu ia akrab disapa – menyempatkan waktu di tengah kesibukannya untuk bertukar ide dalam diskusi santai dengan kawan-kawan KSM UNAS.

Diskusi santai dimulai dengan pembahasan Michael akan hubungan bilateral Indonesia-Australia yang seakan- akan mengalami pasang surut. Isu-isu yang kerap mewarnai hubungan kedua Negara pun bermacam-macam, mulai dari impor daging sapi, isu pengungsi, Papua, sampai isu penyadapan dan isu hukuman mati yang sempat membawa hubungan kedua Negara ke titik terendah dalam beberapa tahun terakhir. Michael menyampaikan bahwa Indonesia adalah negara yang sungguh penting bagi Australia, dan juga sebaliknya. Sangat banyak sekali bantuan dan juga kerjasama yang didukung oleh Australia, terutama dalam pembangunan yang berkelanjutan di Indonesia. Namun, Michael menyayangkan pengungkitan masalah bantuan Australia oleh mantan PM Tony Abbott beberapa waktu lalu pasca keputusan hukuman mati dua warga Negara Australia yaitu Andrew dan Myuran Sukumaran (bali nine). Sebagai calon diplomat muda, menurutnya hal tersebut sungguh tidak pantas untuk dilontarkan oleh seorang kepala pemerintahan. Michael juga menyampaikan permohonan maaf terkait aksi penyadapan Australia kepada beberapa figur petinggi negara di Indonesia, termasuk yang dilakukan kepada ibu Ani Yudhoyono. Namun kita juga perlu mengingat kembali bahwa penyadapan sebagai aksi inteligen merupakan hal yang wajar dalam perspektif realism studi Hubungan Internasional. Continue reading

Bedah Buku: Coming Out, by Hendri Yulius (Review Diskusi)

Standard

 Bedah Buku Coming Out, by Hendri Yulius (Review Diskusi)

Oleh: Ramzy Farrazy, Ilmu Hubungan Internasional (2011)

crimsonstrawberry(dot)wordpress(dot)com

Cover Buku Coming Out
Sumber: crimsonstrawberry.wordpress.com

Sekre KSM Unas kembali membedah sebuah buku yang sangat menarik untuk dibaca: Coming Out. Buku ini ditulis oleh Hendri Yulius dan diterbitkan bulan Maret 2015 oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Bedah buku dipandu oleh Teuku Ramzy (Hubungan Internasional 2011), Selasa (13/10).

Buku ini terbagi atas tiga bagian utama: Gay(o)graphy yang memaparkan pemahaman dasar atas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender), gender dan seksualitas; Gay(o)metry yang lebih memaparkan kepada isu LGBT dalam ranah kebudayaan dan Gay(o)politics yang membahas pergerakan LGBT. Walaupun begitu, buku ini khusus membahas kepada Gay saja. Terdapat beberapa bab yang cukup menarik untuk dikaji seperti the Gay Gene yang membahas perdebatan dari manakah seseorang dapat menjadi gay. Continue reading

Kajian FIlsafat Lacan dalam Film Disney “Frozen”

Standard

Oleh: Teuku Ramzy Farrazy, Ilmu Hubungan Internasional (2011) [i]

Salah satu dari pada pelbagai provokasi Lacan[ii] yang paling terkenal adalah “Kekurangan ialah Ibu dari hasrat.” Yang kemudian berkesinambungan dengan “woman does not exist”.  Tampaknya hal ini perlu lebih lanjut ditelisik guna memahami seksuasi. Formula ini seringkali disalahpahami sebagai sesuatu yang antifeminis atau bahkan misoginis.[iii]  Padahal, pemikiran ini tak lebih dari sebuah kajian Etika. Lantas, apa hubungannya dengan film Box Office Disney Frozen?

Frozen (2013) adalah film animasi 3D atau tiga dimensi produksi Walt Disney Pictures (Amerika Serikat) yang pada dasarnya diadaptasi dari dongeng anak-anak The Snow Queen mahakarya Hans Christian Andersen. Dalam film ini, diceritakan sepasang adik kakak Elsa dan Anna yang terjebak dalam suatu relasi yang rumit, dan mengakibatkan marabahaya setiap kali Anna mendekati kakaknya, Elsa. Sesungguhnya, film ini mengisahkan sebuah konsep kastrasi dari jouissance, pergumulan dalam sebuah ‘lackness’ atau kekurangan. Continue reading

Indonesia dan Politik “Rapopo” dalam Kancah Dunia

Standard

                                   Oleh: Teuku Ramzy F, Hubungan Internasional Unas (2011)

Hingga tulisan ini diturunkan di web KSM Unas ini, Joko Widodo (Jokowi) sebagai Presiden RI ke-7 belum jua menetapkan struktur kabinetnya. Jokowi mungkin tengah menyadari bahwa ia berada dalam suatu kondisi yang sulit, dimana suara rakyat dan bisikan elite partai saling berbenturan dan mengusik hati nuraninya.

Penulis pun jadi tergelitik. Butuh waktu lama kah seorang presiden jika harus mengambil suatu keputusan yang nantinya berkaitan dengan hubungan luar negeri? Seperti kita ketahui, bahwasanya Jokowi berjanji untuk meneruskan berbagai prestasi presiden yang menjabat selama dua periode sebelumnya yaitu Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY.

Menarik, karena dalam beberapa hal terkait urusan luar negeri, SBY kerap menuai pujian dari pihak asing. Mulai dari keaktifan Indonesia mengirim pasukan perdamaian ke Lebanon, bergabungnya dengan geng G20, yang tak lebih merupakan ajang formalitas-buang-buang anggaran dan sekedar upaya ikut serta dalam perdamaian dunia sesuai amanat konstitusi, hingga pencalonan SBY sebagai Sekjen PBB.
Continue reading