GEMBAR-GEMBOR MEDIA TERKAIT BEGAL

Standard

Oleh : Fitria Hariaty, Ilmu Komunikasi Unas (2012)

Rawan pembegalan lebih booming dibanding pendatang artis Korea atau India saat ini. Masyarakat dibuatnya panik olehnya sehingga membatasi kegiatan baik orang perkantoran ataupun mahasiswa yang beraktifitas sampai larut malam.

Pemberitaan mengenai pembegalan membuat resah masyarakat. Kejadian yang terjadi di tempat-tempat tertentu seperti Depok atau sejumlah tempat lainnya semakin sepi dilewati ketika waktu menunjukan di atas jam 22.00.

Terlihat bahwa media melebih-lebihkan berita tersebut. Memang benar begal membahayakan, akan tetapi solusi yang dilakukan seharusnya bukan hanya berhati-hati atau membatasi orang beraktifitas tetapi lebih memperketat penjagaan daerah rawan tersebut. Continue reading

Peran Media Massa di Pra Pemilu 2014

Standard

Oleh : Achmad Al Fiqri, Ilmu Komunikasi Unas (2014)

Media massa memang sangat berpengaruh bagi kehidupan, tidak bisa dipungkiri lagi, dari media media bisa mengubah fikiran suatu masyarakat. Seperti kata Jim Morrison, “Whoever control the media, control the mind”. Dan pada bulan-bulan lalu, banyak politisi memanfaatkan media untuk mencari atau mengambil hati rakyat, bahkan dengan cara menjatuhkan saingannya melalui media massa.

Pemilu 2014 menjadi ajang yang sangat alot bagi kedua kubu, antara kubu indonesia hebat dengan kubu merah putih. Mereka berlomba – lomba dengan segala cara untuk bisa mendapatkan suara pada saat pemilu berlangsung. Media merupakan suatu solusi alternatif bagi mereka untuk mengambil perhatian rakyat. ditambah para kandidat  dimasing – masing kubu memiliki suatu perusahaan media massa. Kondisi seperti ini menjadi sangat rentan untuk menimbulkan persaingan yang tidak sehat. Continue reading

Media dan Kekerasan Simbolik

Standard

         Oleh : Fitria Hariaty, Ilmu Komunikasi Unas (2012)

Saat kita membahas “kekerasan” dan “media” kita perlu meletakkannya dalam kerangka yang lebih luas. Kekerasan secara terminologi dimaknai sebagai “perlakuan dengan cara pemaksaan” maka apa pun bentuk perlakuan yang didalamnya melekat unsur-unsur pemaksaan, ia dapat dikatakan sebagai perlakuan kekerasan. Itulah sebabnya muncul istilah kekerasan simbolik (symbolic violence) dan bukan hanya kekerasan fisik; tidak cuma kekerasan benda melainkan juga kekerasan bahasa (language violence); tidak hanya kekerasan makna tetapi juga kekerasan citra (image violence). Dalam kaitan ini maka kekerasan simbolik sebagai fokus utama tulisan ini, selanjutnya menemukan tempatnya yang paling subur di dalam media sebab media memungkinkan terjadi berbagai bentuk kekerasan tak tampak (seperti distorsi, pelencengan, pemalsuan, plesetan)(Piliang, 2001:149).

Kasus yang paling pas untuk dijadikan contoh adalah kekerasan simbolik media yang sebagai kaki tangan penguasa dalam meliput kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo. Media-media yang dimiliki Grup Bakrie yang notabene pada masa itu adalah Menkokesra Aburizal Bakrie sekaligus pemilik PT Lapindo Brantas sekaligus orang terkaya itu menggunakan kata “lumpur Sidoarjo” bukan “lumpur Lapindo”. Continue reading