SEJARAH TERBENTUKNYA KSM UNAS (PART 2)

Standard

Oleh: Munandar Nugraha Saputra

Sejarah Berdirinya

Terhitung sejak 28 oktober 2004 KSM UNAS berdiri sebagai organisasi secara formal, walaupun sebenarnya ada proses “KSM UNAS non formal” yang cukup lama untuk kemudian memastikan legalitas berdirinya KSM UNAS sebagai organisasi pada tanggal tersebut. Jelang usianya yang ke 12 tahun ini, satu hal yang patut kita banggakan adalah, sudah 11 kali estafet kepemimpinan berpindah tangan (Adi Pras – Adi Thea – Didit – Fahmi – Budi – Wem – Hakam – Wahid – Angga – Bekar – Adara – Nico – Fiqri). Ya, sebagai organisasi kader, kaderisasi kepemimpinan yang dilakukan setiap tahun, tentunya menjadi ukuran keberhasilan. Terlepas dari fluktuasi capaian dari masing-masing periode kepengurusan yang pastinya dipengaruhi oleh kondisi dan realitas yang ada. Semoga di Kongres yang ke 12 dan yang seterusnya nanti, akan terpilih dan terbentuk kepemimpinan dan kepengurusan yang lebih solid, lebih militan dan lebih progressif dari waktu ke waktu.

Mungkin kita akan sedikit berpikir sinis tentang sejarah, ketika memahami ungkapan yang tertulis dalam novel The Davinci Code, bahwa “sejarah ditulis oleh pemenang” dan ungkapan seorang Adolf Hitler bahwa, “kebenaran adalah kebohongan yang diulang-ulang 1000 kali”. Semoga saja catatan sejarah KSM UNAS versi saya ini dapat mendorong kawan-kawan pendiri yang lain untuk juga menulis. Untuk melengkapi catatan, mengkritisi, bahkan meluruskan jika ada catatan yang mungkin saja tidak sesuai dengan versi lain dari kacamata lain.

Perlu saya pertegas bahwa, tulisan ini hanya ingin sedikit berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana sebenarnya proses dan dinamika KSM UNAS terbentuk. Dengan daya ingat penulis yang terbatas, pasti akan ada banyak hal yang terlewatkan dan tidak tertulis dalam catatan ini. Saya berharap kawan-kawan yang sempat membaca dapat mengkoreksinya menjadi rangkaian yang saling melengkapi, baik dalam skema mengurangi, menambahkan, bahkan mengkritik yang dianggap tidak sesuai. Artinya, tulisan ini pun tidak final sebagai bahan untuk disampaikan dalam diklat-diklat KSM UNAS selanjutnya, sehingga masukan dari kawan-kawan pendiri sekalian menjadi sangat penting untuk memastikan tulisan ini sudah layak untuk disampaikan kepada adik-adik kita.

Judul diatas saya lekatkan dengan tanda Tanya (?), karena saya berasumsi akan ada perbedaan catatan sejarah dengan beberapa kawan-kawan yang juga memiliki versinya masing-masing. Mungkin saja ada prokontra dalam setiap catatan sejarah ini, tetapi pastinya saya berharap tulisan ini tidak kontra produktif. Rangkaian sejarah bangsa ini menjadi kurang jelas karena para pelaku sejarah enggan untuk bercerita, yang akhirnya wafat dan terkubur bersama rangkaian peristiwa yang belum tercatat. Dalam kesempatan ini, saya hanya ingin memastikan bahwa saya tidak terkubur dengan membawa penggalan sejarah KSM UNAS versi saya.

Diatas telah saya singgung, bahwa dalam setiap catatan sejarah, akan cenderung dan selalu menyinggung orang-orang yang terlibat dan terkait didalamnya. Untuk kawan-kawan yang di singgung dalam catatan ini, dan merasa tersinggung dengan konten yang ada, mohon maaf. Pastinya, jika anda tidak berkenan dengan konten yang saya tulis, mohon dikoreksi dan dibenarkan menurut versi anda. Karena sebagai insan akademik dan intelektual yang tidak asing dengan dunia tulis menulis, hak jawab dan hak klarifikasi terhadap karya tulis akan memperkaya khasanah kita tentunya. Pastinya, tidak ada maksud sedikitpun dalam tulisan ini untuk menuju pada hal-hal yang negative.

Menurut versi saya, Sejarah berdirinya KSM UNAS tidak terlepas dari perjalanan akhir PUSPIPAM (Pusat Pengkajian Politik dan Advokasi Masyarakat). Ya, sekalipun tidak semua yang “terdaftar dan didaftar” sebagai pendiri KSM UNAS adalah kader PUSPIPAM. Bahkan lebih mendalam saya ingin katakan bahwa KSM UNAS adalah kelanjutan dari PUSPIPAM.

Bagaimana bisa?! Setidaknya ada dua hal yang mendukung statement saya diatas. Pertama, karena factor “kesejarahan” – dinamika yang kami alami ketika itu, dan Kedua karena factor ideology.

Dalam factor kesejarahan KSM UNAS, disini saya ingin sampaikan bahwa cikal bakal KSM UNAS sudah ada sebelum kami (saya, Gomez dan Firman) menyepakati pembubaran PUSPIPAM di Kongres setelah mengalami perdebatan panjang dan arahan dari senior Oka dan Senior Jack Paskalis. Kami ingin dalam kongres itu setelah pembubaran PUSPIPAM langsung deklarasi KSM UNAS atau dengan kata lain PUSPIPAM berubah nama menjadi KSM UNAS. Tetapi hal itu ditentang oleh mereka, dengan alasan tidak elok dan tidak memenuhi unsur keorganisasian, menurutnya jika mau mendeklarasikan KSM UNAS silahkan buat momentum di lain waktu. Padahal, AD/ART KSM UNAS sudah kita susun dengan sedikit banyak mengutip pada AD/ART PUSPIPAM. Dalam proses perjalanan waktu kemudian, kami baru pahami hidden agenda mereka yang mengkondisikan PUSPIPAM bubar dan ber-ackting seolah-olah akan membantu dan memfasilitasi penguatan KSM UNAS. Saya akan ulas hal itu dibelakang. Kira-kira ini hal pertama, tentang cikal bakal berdirinya KSM UNAS – berkaitan dengan dinamika PUSPIPAM.

Dalam factor ideology, konsepsi dan semangat KSM UNAS masih sama dengan PUSPIPAM. Secara Etimologi, Kata Ideologi pertama sekali diperkenalkan oleh filsuf Prancis, Destutt de Tracy (1754 – 1836), kata ini idéologie, merupakan gabungan 2 kata yaitu, idéo yang mengacu kepada gagasan dan logie yang mengacu kepada logos, kata dalam bahasa Yunani untuk menjelaskan logika dan rasio. Destutt de Tracy menggunakan kata ini dalam pengertian etimologisnya, sebagai “ilmu yang meliputi kajian tentang asal usul dan hakikat ide atau gagasan”. M. Sastraprateja menyatakan bahwa ideologi adalah sebagai perangkat gagasan atau pemikiran yang berorientasi pada tindakan yang diorganisir menjadi suatu sistem yang teratur. Menguatkan kualitas intelektual anggota dan kader adalah realisasi dari setiap tahapan kaderisasi KSM UNAS yang juga pernah dilakukan oleh PUSPIPAM. Inilah ketersambungan ide dan gagasan pendirian KSM UNAS setelah PUSPIPAM.

Dinamika PUSPIPAM

Polemic dimulai pada awal 2003, dimana PUSPIPAM kedatangan beberapa senior (angkatan 90an) yang “seolah” membawa angin segar tentang “reorientasi” wajah pergerakan mahasiswa di-era 2000an. Barisan PUSPIPAM angkatan 2000 kebawah ditarik dalam ruang Gerakan Politik dan Ekonomi yang termanifestasi dalam Gerakan Mahasiswa Sosialis dan Koperasi Mahasiswa (GMS UNAS dan KOPMA UNAS). Kedua organisasi ini berdiri dan diperkuat, tetapi PUSPIPAM sebagai induknya malah diperlemah. Bahkan kita sampai melakukan Kongres Luar Biasa (KLB) untuk melakukan penyelamatan PUSPIPAM, dengan terpilihnya kawan Gomez dan mendemisionerkan Kawan Agung Sambuko (yang biasa dipanggil Bajong) yang ketika itu lebih memilih untuk memperkuat GMS – dijadikan ketua GMS Jaya oleh senior tsb. Satu periode kami berjibaku dengan maksimal di PUSPIPAM dibawah kepemimpinan kawan Gomez, hingga Pada akhirnya PUSPIPAM bubar.

Wacana pembubaran PUSPIPAM sebenarnya sudah mencuat menjelang KLB kawan Bajong. Ketika wacana pembubaran ini “muncul atau dimunculkan”, diantara kami yang ketika itu menjadi anggota dan pioner-pioner terdepan PUSPIPAM mendapat tawaran untuk masuk dalam ruang yang sudah dibentuk (GMS atau KOPMA). Tetapi tawaran itu seterusnya tidak menjadi pilihan kami, kami tetap aktif di PUSPIPAM. Ya, proses penyelamatan PUSPIPAM diawali dengan sebuah fenomena “pendewasaan politik”. Ketika itu, pucuk pimpinan PUSPIPAM dipegang oleh Kawan Bajong, tetapi Kawan Bajong juga dipasang sebagai Ketua GMS oleh “senior”.

Diawal perjalanan Kawan Gomes sebagai Sekjen PUSPIPAM, kami seolah seperti anak ayam yang kehilangan induk. Semua kinerja organisasi dilakukan dengan semangat  dan inisiatif, serta kemandirian dalam hal gerak, pendanaan organisasi, dll. Untuk bayar kontrakan, tidak jarang kami menunggak. Uang patungan anggota tiap bulannya tidak pernah penuh untuk bayar kontrakan. Tetapi untuk GMS dan KOPMA ketika itu, kondisinya sangat bertolak belakang. Mendatangi beberapa senior untuk meminta sedikit bantuan pendanaan organisasi, malah diminta balik untuk bantu-bantu aksi tentang isu tertentu yang ketika itu menjadi fenomena nasional.

Hal ini terus terjadi dan selalu kami siasati dengan berbagai cara, sampai ngecrek di pinggir jalan dan pintu masuk tol. Pada pertengahan periode kepemimpinan Kawan Gomes, kami sempat melaksanakan agenda rekruitmen dan kaderisasi, ya pastinya itu menjadi agenda yang terakhir jelang pembubaran PUSPIPAM. Dalam kesempatan itu, pesertanya adalah Kawan Uri, Zaki, Rofiq, Kirli, Nope, Tarom, Ucu, Norma, Rio. Agenda ini dilaksanakan di tempat Kawan Josua, di Bogor. Tentunya hal ini merupakan kontribusi yang amat sangat membantu, karena tidak hanya dapat tempat gratis, tetapi juga dibantu logistik, konsumsi dll. Tq Jooo.

Banyak hal yang kita lakukan untuk tetap melakukan yang terbaik bagi organisasi, atau setidaknya tetap menjaga eksistensi organisasi, baik menggerakan agenda internal organisasi, didalam kampus maupun diluar kampus. Banyak dinamika yang terjadi dalam perkembangan keorganisasian PUSPIPAM ketika itu. Mulai dari agenda rutin (diskusi mingguan dan ngajar anak jalanan Garuda) yang tidak lagi menjadi agenda bersama, karena kesibukan masing-masing anggota, kesibukan personal (kuliah, pacaran, nongkrong, dll). Anggota PUSPIPAM yang awalnya aktif, di tarik ke GMS/KOPMA. Padahal disana pun mereka hanya sekedar nongkrong-nongkrong saja. Agenda GMS yang cukup menarik perhatian anggota kami, dengan membuat diskusi khusus tentang Hubungan Internasional (HI). Angkatan 2002 yang dari HI pun hilang dari aktivitas PUSPIPAM. Terlepas kemudian ada agenda pribadi (pacaran), semua konsentrasi meramaikan sekre GMS.

Akibatnya, Sekre PUSPIPAM sepi. Hanya beberapa gelintir anggota yang masih bertahan ketika itu, proses mentoring anggota baru tidak maksimal, dan semua itu mengakibatkan iuran bulanan anggota menjadi sangat minim, dan sulit untuk mencari solusi alternative untuk membayar kontrakan.

Sampai pada puncak kondisi yang tidak lagi memungkinkan, akhirnya kami memutuskan untuk tidak meneruskan kontrakan sekretariat PUSPIPAM. Barang-barang PUSPIPAM tercecer (buku-buku, arsip, dan perlengkapan lainnya) dititipkan dibeberapa kosn anggota PUSPIPAM (Catur, Gomes, Begeng dll). Disisi lain, GMS dan KOPMA UNAS lebih terjamin dengan sokongan fasilitas kesekretariatan. Kondisi seperti ini cukup membuat kami stress walaupun tidak sampai frustasi. Dalam beberapa kesempatan, senior yang sudah terjun ke GMS mengundang kami untuk sekedar berdiskusi, bahkan teklap. Parahnya, mereka hanya sepintas bertanya tentang PUSPIPAM kemudian mengalihkan pembicaraan. Seolah mereka berkata, bubarkan PUSPIPAM dan bergabunglah dengan kami.

Munculnya GMS dan KOPMA yang membelah barisan PUSPIPAM tentu tidak di setujui oleh beberapa senior, mereka menentang, bahkan marah. Tetapi mereka pun tidak dapat berbuat banyak. Tidak ada solusi kongkrit.

Dalam kondisi inilah titik jenuh menghampiri, wacana pembubaran PUSPIPAM kami hembuskan, tidak serius. Tujuannya hanya untuk menggugah rasa memiliki kawan-kawan agar kembali solid, tetapi wacana itu tidak berefek. Senior yang tidak senang dengan gerakan GMS dan KOPMA pun tidak berbuat apa-apa. Kondisi ini dimanfaatkan “penyusup”. secara diam-diam, mulai menyusup senior Jack Paskalis menginap di kosn Kawan Gomes (yang ketika itu kami jadikan basecamp sementara – villa revolusi), agenda beliau khusus “ngomporin” pembubaran PUSPIPAM. “Nanti kalian buat kelompok studi, untuk jaringan, secretariat dan lain-lainnya nanti saya bantu”, janjinya kepada kami ketika itu.

Tawaran senior Jack ketika itu cukup mengganggu pikiran kami. Kemudian saya dan Gomez mencoba merumuskan satu institusi organisasi yang lebih focus dan spesifik berada dalam ruang kajian dengan semangat meningkatkan kualitas intelektual anggota dan kader-kadernya. Tentunya dengan memahami, bahwa gerakan mahasiswa di-era reformasi, tidak dapat lagi melulu, berbasis gerakan jalanan. Hal ini diinspirasi oleh cerita tentang sejarah dan perjalanan keorganisasian Gerakan Mahasiswa di UNAS. Berdirinya PIJAR/POLITIKA gerakan jalanan dan gerakan pers mahasiswa oleh senior 80an – PUSPIPAM/HAMAS oleh senior 90an – dan yang hari ini kita manfaatkan keberadaannya, KSM UNAS sebagai kawah candradimuka penguatan intelektual oleh aktivis 2000an.

Just info. Pada awalnya, HAMAS hanya aliansi untuk turun kejalan bagi aktivis UNAS. Aliansi ini di inisiasi oleh PUSPIPAM pada era 96-an. Karena dinamika pergerakan ketika itu, harus ada kajian mendalam dan dipahami bersama, baru didorong aliansi untuk turun kejalan. Sampai kemudian HAMAS menjadi aliansi permanen dan memiliki secretariat sendiri, yang menempati secretariat itu ya kawan-kawan PUSPIPAM juga. Jika paragraph ini dibaca oleh kawan-kawan HAMAS dan dianggap saya keliru, mohon di koreksi. Karena basis informasi yang saya sampaikan diatas berasal dari senior-senior PUSPIPAM dan HAMAS yang foto-fotonya pernah saya lihat di secretariat HAMAS.

Kembali pada diskusi pembahasan saya dengan kawan Gomes. Kami ingin mendorong focus organisasi pada aktivitas kajian. Artinya, kami coba merumuskan agar PUSPIPAM kembali pada semangatnya dalam melakukan pengkajian, menjadi pusat perkembangan ilmu dan gagasan. Bukan organisasi yang bisa dijadikan alat untuk turun ke jalan, apalagi yang diinisiasi oleh pihak “luar”. Sekalipun harus turun ke jalan, itu berasal dari kesadaran bersama – “bukan pesanan”. Diskusi santai ketika itu, berujung pada kongklusi yang cukup serius. Sampai pada wacana inti keorganisasian. Pilihannya adalah ganti nama atau tetap, tetapi dengan penetapan perubahan orientasi dasar perjuangan Organisasi berbasis kualitas intelektual, yang pastinya hal ini akan ditetapkan dalam forum Kongres. Bahkan Kawan Difta sudah terkondisikan untuk menjadi Sekjen PUSPIPAM next.

Diakhir perjalanannya (akhir 2003 menjelang awal 2004), eksistensi PUSPIPAM lebih berkibar “diluar”, yaitu dalam kegiatan advokasi Jaringan Belajar Garuda, yang focus mengajar anak jalanan di sekitar Perempatan garuda yang sekarang dikenal dengan persimpangan TAMINI Square. Saya bersama kawan didip yang langsung menggawangi agenda ekternal PUSPIPAM ini, senior yang juga membackup langsung yaitu kawan Harun dan Nanung. Aktivitas ini juga diikuti oleh kawan-kawan dari Trisakti, Jayabaya, dll. Sedangkan “didalam”, eksistensi PUSPIPAM makin menipis, terkikis, seperti digerogoti oleh tangan-tangan gaib. Tangan-tangan yang tidak menginginkan PUSPIPAM tetap jaya dan berkibar.

Cukup massif wacana tentang pembubaran PUSPIPAM menjelang Kongres, mulai dari urusan pribadi (lobby personal), sampai pada proses pengaruh mempengaruhi antar personal anggota tentang final agenda yang harus ditetapkan dalam Kongres tersebut.

Ditengah karut marut PUSPIPAM, saya menjabat sebagai Ketua HIMAJAN (2003-2004). Diakhir 2003 dan awal 2004, saya berangkat ke Malang untuk menghadiri acara KONGRES PENASMA (Persatuan Nasional Mahasiswa Administrasi). Rombongan dari UNAS, selain saya ada Agus (kucing dapur), Eka angkatan ’00, juga ikut serta Gomez, tentunya untuk urusan yang berbeda. Tetapi kami berangkat bersama.

Di Malang, kami “sambil” menjajaki jaringan GMS. Karena beberapa senior selalu berusaha mempengaruhi untuk segera tuntaskan PUSPIPAM dan bergabung dengan GMS. Cerita-cerita tentang jaringan GMS sudah massif di Jawa-Bali, sedang merajut di Sumatera dan Makassar, sedikit banyak mengganggu saya dan Gomes untuk bergabung. Bahkan kawan Gomez pernah mengatakan, “Dar, mendingan kita masuk GMS aja, selain udeh banyak temen-temen, jaringannya juga kuat, logistic aman, kita tinggal kerja. Gak repot kaya ngurusin PUSPIPAM”. (Kira-kira seperti itu poinnya, mohon dikoreksi kawan Gomez).

Tahukah anda, ternyata gembar-gembor tentang jaringan organisasi GMS ketika itu, oleh beberapa senior adalah bohong. Penjajakan jaringan GMS disana ternyata menjadi pijakan yang amat sangat penting untuk kemudian kami menetapkan pilihan TIDAK ber-GMS. Sekembali dari Malang, Kongres PUSPIPAM siap digelar. Panitia inti Kongres adalah Kawan Jawa yang ketika itu lebih aktif di KOPMA dan kawan Rossi yang ketika itu lebih banyak waktunya ke GMS karena mendapatkan mentoring langsung dari senior Oka. Di minggu pertama Januari 2004, PUSPIPAM menggelar Kongres. Kongres yang memang dipersiapkan untuk pembubaran. Ketua Pelaksana Kongres adalah Kawan Rossi. Beberapa senior yang tidak pernah ada, tiba-tiba hadir untuk menghambat dan menggagalkan agenda Pembubaran.

Ketika itu muncul kekuatan senior yang berhadap-hadapan langsung dengan kepentingan yang menegangkan, membubarkan PUSPIPAM VS mempertahankan PUSPIPAM. Kawan Tyo menghampiri saya, dengan amat bijak beliau bicara panjang lebar, intinya meloby agar PUSPIPAM tetap di pertahankan. Sedangkan disisi lain, barisan pro pembubaran sudah massif konsolidasinya. Saya dan Gomez mencoba mengkalkulasi kekuatan, untung dan ruginya tetap mempertahankan PUSPIPAM atau pembubaran.

Jalan tengahnya, mendorong rumusan terkait dengan PUSPIPAM pasca kongres yang sudah saya singgung diatas, merubah nama dengan KSM UNAS. Memahami dinamika yang berkembang, ternyata ada pemikiran lain, kami yang merasa berjuang sendirian, tidak didampingi senior PUSPIPAM ketika itu, mulai berpikir nakal. Kemaren saja, kita ngurusin PUSPIPAM banyak senior yang gak peduli, buat apa kita dorong perubahan nama di kongres? Toh apapun namanya itu akan menjadi ganjalan kita untuk berkreasi maksimal, senior PUSPIPAM akan tetap merasa putusan itu adalah bagian dari perjalanan dinamika organisasi. Mereka akan tetap memiliki hak untuk “campur tangan” – sesuatu yang biasa ketika itu.

Perdebatan awal mencuat terkait dengan agenda-agenda yang seharusnya dibahas dalam kongres, yaitu tatib kongres, komisi-komisi, dan pleno-pleno serta pembahasan ADRT oleh kawan-kawan pro PUSPIPAM dan agenda pleno langsung bicara pembubaran oleh kawan-kawan pro pembubaran. Setelah terjadi perdebatan yang sangat sengit, palu sidang kemudian diketuk oleh kawan Firman yang menjadi Pimpinan Sidang dan menyatakan, PUSPIPAM BUBAR!

Ketika itu, PUSPIPAM adalah organisasi lokal tertua di UNAS (berdiri tahun 1992, di Tahun 2004 12 Tahun usianya), setelah hilangnya jejak organisasi POLITIKA. Banyak yang menyayangkan hal ini, tetapi, inilah sejarah. “Selalu ada awalan dalam setiap akhiran”. Tentunya, sebelum dunia ini kiamat. Bahkan, kawan Taraas dan Maolana, yang ketika itu sebagai kader HAMAS, sangat kecewa. Karena sebelumnya, secara pribadi dia ingin bergabung dalam PUSPIPAM setelah memasuki masa Purnabaktinya di HAMAS. Merasa nyaman dengan agenda-agenda diskusi dan Sekolah Rakyat (SR) di PUSPIPAM.

Sosialisasi hasil Kongres disampaikan kepada seluruh elemen yang terkait, khususnya di UNAS. Beragam tanggapan yang kita terima ketika itu, ada yang menyesalkan, ada yang mungkin senang, dan ada juga yang melihat ini sebagai peluang untuk mengkonsolidir potensi kader-kader PUSPIPAM dalam wadah organisasi lain.

Ya, seminggu setelah itu, kami diundang untuk hadir dan membicarakan rencana pembentukan organisasi Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi (SOMASI). Forum ini diinisiasi oleh Kawan Betrik dan Ciput. Dengan analogi yang disampaikan bahwa, “kalau kita mau membedah ikan, pakai pisau bedah yang kecil, tetapi kalau kita mau merobohkan Pohon besar yang menjulang, pakai gergaji mesin”. Arahannya, kalau kita mau memberikan pengaruh positif bagi banyak orang, kita harus bergabung, menguatkan dan membesarkan barisan.

Organisasi Betrik dan Ciput ketika itu adalah SDS (saya lupa singkatan apa SDS itu). Pada akhirnya SOMASI hanyalah perubahan nama dari SDS, karena gagal mengkonsolidir mantans PUSPIPAM, wacana yang kemudian berkembang adalah organisasi ini didirikan oleh Mahasiswa angkatan 2003. Mahasiswa semester 2 (saat itu 2004). Singkat cerita, semua mantan PUSPIPAM tidak ada yang ikut bergabung dengan SOMASI. Sekalipun dinamikanya cukup luar biasa ketika itu, mungkin kawan Uri, Daenk dan Jajang bisa sedikit berkisah khusus tentang hal ini.

Tepatnya diakhir tahun 2003, saya dan Gomez sudah selesai membuat rumusan tentang KSM UNAS. Tetapi, khusus tentang rumusan bendera organisasi, selanjutnya, kemudian melibatkan kawan Diftha, Firman, dan Pedro. Kawan Pedro terlibat dalam perbincangan pendirian KSM UNAS, adalah diluar dari scenario, karena dalam perbincangan kami (saya, Gomez Firman, dan Diftha) di kostn Gomes yang bersebelahan dengan kosn Pedro, dan tidak etis jika ketika itu kami “mengusir” Pedro untuk tidak terlibat dalam perbincangan. Tetapi, ternyata ybs memberikan sumbangsih pemikiran yang cukup baik, sampai hari ini bendera yang ada adalah buah pikir dari rembuk saran ketika itu. Kostan yang selanjutnya kami sebut dengan Villa Revolusi, karena tempatnya yang teduh, tenang dan memberikan banyak inispirasi, walaupun tidak telalu luas, tetapi dapat mendorong penghuninya berpikir luas. Kawan Pedro adalah simpatisan Front Nasional (FN) yang selanjutnya lebih intens di KSM setelah berdirinya.

Januari 2004 rumusan tentang KSM UNAS sudah selesai (rancangan ADRT, Kop Surat, Bendera dll), kemudian secara persuasive, saya dan Gomez mengkomunikasikan hal ini kepada beberapa teman yang tergabung dalam PUSPIPAM. Sesungguhnya, sebelum perumusan bendera, Kawan Diftha, pada awalnya merasa kecewa dan nggak mau tahu tentang ini. Ya, kekecewaan yang cukup beralasan. Karena sebelumnya, dia pernah ingin menjadi ketua HIMASOS, tetapi dibuat tidak yakin, karena ingin dikondisikan sebagai Sekjen PUSPIPAM pengganti Gomez, tetapi selanjutnya PUSPIPAM malah dibubarkan. Sampai kemudian keluar celoteh, “gua mau jadi ketua HIMASOS, dibuat nggak yakin. Karena mau disetting jadi Sekjen PUSPIPAM, eh seterusnya PUSPIPAM dibubarin. Sekarang lagi, mau buat KSM. Au ah..!” Kira-kira seperti itulah.. Mohon maaf kawan DIftha, kalau tulisan ini muncul, dan kalau anda merasa keberatan. Anda dapat mengklarifikasi hal ini, dengan tulisan juga tentunya.

Selanjutnya kami mengkomunikasikan kepada kawan Rossi, Nofia, Rudang Tika, Endah. Pada awalnya mereka acuh tak acuh, bahkan cenderung menolak. Khususnya untuk Kawan Rudang, Tika, dan Endah dengan tegas menyatakan, tidak mau lagi terlibat dalam organisasi, mau focus kuliah saja. Sedangkan rossi masih mempertimbangkan kedekatannya dengan GMS. Tetapi tanggapan positif kami dapati dari kawan Adipras, dan beberapa kawan yang pernah mengikuti diklat PUSPIPAM terakhir sebelum pembubarannya (Arya, Uri, Rofiq, Zaki, Tarom, kirli) serta beberapa teman yang tergabung dalam HIMAJAN (arif, nila, reno, dkk), untuk kemudian membuat acara launcing KSM UNAS dengan menggelar seminar bekerjasama dengan HIMAJAN, pada tanggal 13 Maret 2004.

Di acara perdana KSM ini, juga terlibat beberapa teman yang tidak tergabung dalam PUSPIPAM dan juga HIMAJAN, tetapi memiliki kemauan dan komitmen untuk membangun KSM UNAS, diantaranya adalah Kawan Pante, Empe, Daeng, Jajang. Louncing KSM UNAS kami selenggarakan sebelum Pemillu 2004. Dalam seminar, Tema yang diangkat adalah “Indonesia Pasca Pemilu 2004 : Pemerintahan yang Bersih Atau Korup?”.

Sebelumnya, saya sempat membujuk kawan Pante, karena diawal Ia tidak ingin terorganisir dalam ruang organisasi. Dimalam hari ketika mencari makan keluar, pada saat ingin menginap di “Villa Revolusi”, kawan Pante menyatakan bahwa “gw nggak setuju kalau kita harus bentuk organisasi, mendingan begini aja, toh kita tetep bisa kumpul, kerjasama, diskusi. Daripada bikin organisasi, malah ribet, belom lagi kalau ada konflik-konflik, males gw”. Kira-kira seperti itu dinamika awal membangun persamaan persepsi ketika organisasi ini hendak dibentuk. Tetapi, Alhamdulillah kemudian konsepsi KSM UNAS sebagai organisasi dapat diterima, setelah berhasil menyelenggarakan seminar dengan sedikit mengelola uang untuk pendanaan dan untuk membayar sewa kontrakan KSM.

Titik terang KSM UNAS mulai terkonsolidir dengan maksimal, setelah penyelenggaraan MUSMA HMJ. Kawan Rossi yang menjadi calon ketua HIMAHI dan Kawan Nofia yang juga menjadi calon ketua HIMAJIP mengalami kekalahan. Padahal sebelumnya sangat PEDE menang. Ya, kita memang patut bersyukur atas hikmah dibalik peristiwa. Mungkin jika dalam pertarungan politik di HMJ, kedua kader PUSPIPAM ini menang. Dapat dipastikan, semangat untuk membangun kekuatan politik dalam KSM UNAS tidak terlalu maksimal. Ya, kekuatan politik. Itu kata kunci kenapa KSM UNAS harus dibentuk, dengan tujuan jangka pendek adalah merebut SEMA FISIP.

Di sisi lain, Kami sangat bersyukur, karena kawan Adipras sangat bersemangat dengan rencana pembentukan KSM UNAS. Karena mungkin ketika di PUSPIPAM, masih belum dapat Feel-nya. Ketika di PUSPIPAM ybs tidak terlalu banyak bergerak. Disamping itu, kakak sepupunya menjadi ketua KSM UI. Mungkin ini juga yang memotivasi kawan Pras mau kita nobatkan menjadi ketua KSM Pertama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>