Refleksi Kilat Sumpah Pemuda

Standard

Oleh: Achmad Al Fiqri, Ilmu Komunikasi Universitas Nasional 2014

Tepat tanggal 28 Oktober tahun 1928, Para pemuda Indonesia bersatu dan bersumpah serapah untuk mempersatukan dan menanamkan nilai – nilai nasionalisme demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Di inisiasi oleh Perhimpunan Para Pelajar Indonesia (PPPI), Ikrar Pemuda tersebut di publikasikan pada kongres kedua pemuda Nusantara.

Sudah 89 tahun silam dari ikrar tersebut di kumandangkan di Indonesische Clubgebouw. Hasilnya melahirkan 3 poin sakral yang merupakan dari bentuk sebuah komitmen para pemuda untuk mengarahkan bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Tanah Air Satu, Tanah Air Indonesia.

Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia.

Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia.

Rasanya jika melihat pada dewasa kini, moment 28 Otober menjadi ajang peningkatan rasa nasionalisme nusantara yang di rayakan hanya satu tahun sekali dan tanpa ada rasa memaknai. Mungkin fenomena ini merupakan suatu siklus yang terjadi seiring dari perkembangan canggihnya zaman. Khawatirnya, jika fenomena ini juga masih di anggap biasa saja, tujuan dan arah dari negeri ini kian mengerikan, apalagi jika melihat kondisi negeri seperti ini.

Maka dari itu, pemuda yang memiliki fungsi sebagai agen perubahan, wajib hukumnya untuk memaknai isi dari tiga poin sumpah tersebut. bukan sekedar untuk di pampang di media sosial seolah olah menampakan rasa nasionalisme semata – mata.

Tetapi perlu adanya rasa memaknai dan aktualisasi 3 poin sumpah pemuda tersebut, seperti menanamkan rasa kepeduliaan tanpa memandang agama, suku, maupun RAS. Karena dengan itu dapat mencerminkan dari Bhineka Tunggal Ika.

Tak menutup kemungkinan juga dengan perkembangan zaman, pemuda juga harus siap bersaing secara sehat. Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) misalnya sebagai salah satu acuan motivasi untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin, karena jika dilihat dari saingannya, di hadapkan oleh negara – negara tetangga.

Bisa di katakan istilah jika ingin melihat bangsa yang maju, lihatlah potensi dari pemudanya ada benarnya juga. Karena, pemuda memiliki peran dan fungsi sakral dalam suatu negara. Pemuda memliki peluang yang besar untuk merubah suatu bangsa, bahkan dunia. jika meminjam kata Soekarno “Beri aku 1000 orang tua akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda akan ku goncangkan dunia”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>