Kisah Pilu di Gunung Prau

Standard

Oleh: Achmad Al Fiqri, Ilmu Komunikasi Universitas nasional 2014

2/12 saat ibukota sedang ramai dengan aksi damai yang di lakukan oleh umat Islam, tetapi bagi sakti ia akan memulai petualangan ke gunung Prau. Awalnya Sakti menganggap pendakian kali cukup biasa saja,tetapi segala persiapan dalam pendakian ini tetaplah menjadi prioritas yang utama. Bisa di bilang persiapan dalam pendakian ini sangat istimewa, mengingat peserta pendakian ini berjumlah dua puluh satu anak manusia yang ingin mencari pengalaman , suasana, dan warna yang baru dalam hidup, karena jika mengutip dari Sir Edmun Hillary “Life’s a bit like mountaineering, never look down”.

Dalam Pendakian kali ini rencananya akan melalui jalur Patak Banteng, jalur yang terkenal dengan kesingkatan estimasi waktu untuk mencapai puncaknya, (tetapi) jalur yang cukup berat bagi seorang pendaki pemula. Setibanya di kawasan Patak Banteng,  guyuran hujan yang menyambut dengan hangat, “untungnya saya lekas bersinggah di kediaman Rizi yang menjadi maskot anak dieng itu” Ujar Mahasiswa berambut gondrong tersebut.

Karena pendakian ini berjumlah dua puluh satu manusia, maka diputuskanlah pembagian kerja, dan kelompok untuk menghemat waktu dan tenaga. “Kebetulan saya diberi kehormatan menjadi Tim Advance, yang bertugas untuk mendirikian shelter buatan di Pos III yang dapat berfungsi sebagai tempat persinggahan untuk makan siang dan beristirahat sejenak, dan juga bertugas mendirikan tenda di puncak” ujar pria berkulit sawo matang tersebut.

Bagi tim advance, memulai pendakian terlebih dahulu menjadi prioritas utama karena tim ini akan membuat fasilitas istirahat bagi peserta di atas sana. Selama pendakian ke Pos Satu, rintikan hujan masih setia menemani. Setelah itu tak ada yang istimewa selama melewati jalur selepas Pos satu sampai di Pos dua. Trek yang di dominasi oleh tanah membuat sakti tertatih untuk sampai ke Pos tiga, “sesampai di Pos tiga, saya langsung menjalankan tugas pertama sebagai Tim Advance, yaitu mendirikan shelter buatan” sahutnya dengan nada santai.

Jalur yang memiliki kemiringan berkisar 75 derajat, jalur yang membuat dengkul kaki dengan dada saling bersapaan, jalur yang paling melelahkan dari jalur yang ada di jalur Patak Banteng, jalur dari Pos tiga menuju Puncak. Dengan kondisi jalur yang basah, membuat nafas sakti terengah – engah tak karuan.

“Berkesan memang sesampai di puncak langsung di sambut oleh badai, belum sempat beristirahat, Belum sempat mendirikan tenda, bahkan belum sempat mencari spot untuk mendirikan tenda” ujar mahasiswa jurusan sosiologi tersebut. Tak Kuat, merupakan sebuah penggambaran kata untuk keadaan pada saat itu. dengan keadaan seperti itu, terlintas dia memikirkan teman – temannya yang masih berada di trek pendakian, di tengah – tengah terjangan badai.

Demburan air hujan yang lebat di tambah suara angin yang bergemuruh akhirnya sakti menyerah, “lebih baik menghangatkan tubuh dan mengumpulkan stamnia dulu dari pada di paksakan malah terjadi hal yang tak di inginkan” sahutnya dengan santai. Tak lama beristirahat, ia memutuskan untuk mencari kawanannya di tengah terjangan badai. Sialnya ia harus mendapat kawanannya sedang meneduh di shelter dengan keadaan hipotemia. Keadaan semakin kacau dengan badai yang tak kunjung usai, tetapi hal itu yang memacu sakti untuk mendirikan tenda.

Setelah tenda berdiri, satu per satu temannya di evakuasi ke tenda yang telah di dirikan. “Terlihat wajah murung, takut, dan menggigil di dalam shelter saat saya hendak mengevakuasi, untungnya keadaan manusia – manusia tersebut masih stabil, termasuk teman – teman saya” ujar mahasiswa berumur 21 tahun tersebut.

Benar atau Salah

Salah satu tindakan paling konyol ketika ia mendengar cerita temannya dengan mendobrak pintu shelter yang terkunci. “Konyol memang, tapi tepat. Ya.. tepat, mengapa? Dengan keadaan di tengah terjangan badai, di tambah kondisis fisik yang menurun lebih baik untuk mencari tempat yang pas untuk beristirahat dan menstabilkan kondisi tubuh” ujarnya dengan nada tegas. Terbukti dengan beristirahat di shelter tersebut, banyak yang terbantu, begitu juga dengan para pendaki lain yang kedinginan dan terkena hipotermia selain teman – temannya.

Shelter yang terbuat dari kayu dan dilapisi seng pada atapnya terlihat sangat istimewa memang di atas puncak Prau itu, termasuk Pintunya. Bahkan sangking teristimewanya, nyawa manusia pun tak ada bedanya dengan pohon dan rumput yang pantas untuk di terjang badai,  dan kurang pantas rasanya untuk dapat menikmati di dalam shelter dengan tujuan berlindung dari terjangan badai.

Sayangnya pihak dari Rangger Prau menganggap tindakan menjebol pintu tersebut ialah salah. “Bahkan setibanya para Ranger di Shelter, mereka hanya menginstruksikan untuk mendirikan tenda di sekitar halaman shelter” sahutnya dengan mimik yang kecewa. Kemanakah hati nurani mereka, saat melihat anak –  anak manusia yang sedang kedinginginan bahkan hampir mau mati, jika tak boleh beranjak kedalam shelter hanya untuk beristirahat sejenak dan sekedar menghangatkan tubuh mereka yang kedinginan? Tega. Kata yang pantas untuk mereka, yang seharusnya menlindungi dan mengayomi para pendaki yang sedang mengalami kesusahan.

Ranger  adalah harapan para pendaki, saat di antara pendaki ada yang terkena hipotermi bahkan sampai mau mati ia mengklaim sebagai ranger. “tetapi saat kami sedang dalam keadaan darurat, kau datang maki – maki, meminta uang lalu pergi. Terserah mau ku sebut dirimu ranger, bagiku kau sangat Anger” Ujar salah satu anggota MJJ itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>