(Meredupnya) Era Musik Sebagai Bentuk Kritik

Standard
Oleh : Achmad Al Fiqri, Ilmu Komunikasi Unas (2014)

Sepertinya mayoritas para musisi di indonesia sudah merasa nyaman dengan keadaan atau realita – realita sosial yang ada di indonesia. Sehingga lupa dengan membuat suatu karya yang di balut dengan sebuah alunan nada, yang dapat menggerakan para pendengar untuk bersimpati atau berempati terhadap suatu hal atau peristiwa. Saya rasa, jiwa mengkritik melalui media musik sudah memudar dalam jiwa para musisi, walau masih ada yang terlihat untuk meneriakan aspirasi, (pun) berada di jalan yang sepi.

Melihat fenomena masa kini, saya rasa perlu ada gebrakan dari para musisi untuk lebih atraktif agar dapat mewakili aspirasi yang menjadi solusi dari regulasi yang di rasa kurang untuk dapat di terapi. Menurut saya cara yang efektif untuk menyuarakan aspirasi selain menggelar aksi ialah dengan musik.

Seperti kata Plato, Musik merupakan seni surgawi yang mampu menyentuh perasaan. Hal ini terbukti pada Robert Nesta Marley, yang mempunyai nama panggung  Bob Marley, dapat mempersatukan ras kulit hitam dan putih di dunia. Yang menjadikannya mendapat medali perdamaian oleh Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) atas karya – karyanya yang mempromosikan perdamaian pada tahun 1978.

Dewasa ini kian terlihat kancah musik nasional sedang bergeloranya, dengan hadirnya banyak band – band baru yang bermunculan baik indie maupun tidak. Bahkan dengan tenarnya kembali band – band lama, bak bagaikan putri salju yang  terbangun dari tidur panjangnya, seperti misalnya Sheila on 7, Naif, The Adams yang mulai bersinar kembali.

Tetapi dengan bergeloranya para musisi ataupun band – band tersebut, tidak di barengi dengan karya – karya yang dapat merangsang pendengarnya untuk bersimpati atau berempati terhadap suatu fenomena atau peristiwa. Justru industri musik era kini seperti menganut ideologi kapitalisasi dalam kemunculannya, hal ini terlihat pada tatanan busana, gaya rambut, atau produk – produk tertentu.

Bahkan sangat amat terlihat jelas karya – karya musisi maupun band – band nasional, materi lagu – lagunya tak lebih dari sekedar percintaan belaka. Hal ini yang membahayakan. Mengapa? Karena musik merupakan sebagai konseptualisasi dari diri manusia. Yang maksudnya, lirik maupun nada yang bersumber dari suatu lagu, akan di respon oleh otak dan di resapi oleh jiwa sehingga melahirkan pengahayatan.

Seperti halnya dengan teori kultivasi media, yang mendeksripsikan bahwa media menghasilkan sebuah dampak dimana ada sebagian masyarakat yang menganggap dunia nyata (kehidupannya sehari-hari) berjalan sesuai dengan dunia yang digambarkan oleh media. Ataupun sebaliknya, menganggap bahwa dunia dalam media itu adalah “realita”. Jika di anologikan kedalam sebuah lagu (percintaan), pendengar akan menganggap kehidupannya seperti kedalam sebuah alunan lirik sebuah lagu cinta.

Menyentil Sebuah Karya

Hal ini yang dapat menumbuhkan mental melayu bagi para pendengar, terutama anak kecil yang sudah mulai terkontaminasi dengan alunan musik seperti itu. Maka tak jaranglah dapat di jumpai seorang anak Sekolah Dasar yang sudah mempunyai pacar yang berdekatan rumahnya, mungkin anak tersebut terinspirasi dari lagu pacarku lima langkah dari Uut Permatasari.

Melihat keadaan pasar, mungkin hal ini yang di kiblati sebagai materi utama dari album – album mereka. Apa mungkin karena kita memang benar melayu, yang suka mendayu-dayu, atau  apa memang karena kuping melayu, Suka yang sendu-sendu? Penggelan lirik “Cinta Melulu” dari Efek Rumah Kaca.

Lagu Cinta Melulu merupakan bentuk dari sebuah kritikan terhadap industri musik yang sedang berkiblat pada persoalan percintaan. Lagu ini sangat populer di kalangan anak muda, yang menyebabkan salah satu ke populeran Efek Rumah Kaca juga naik. Memang saya akui, Efek Rumah Kaca merupakan band yang vokal dalam menyuarakan kritikan baik untuk pemerintah, fenomena sosial, dan sebagainya. Dapat dilihat dari karya – karyanya yang berjudul Mosi Tidak Percaya, Cinta Melulu, Hijau, walaupun karya tersebut mengidikasikan sebuah kritikan, tetapi sang vokalis Cholil Mahmud, menerangkan bahwa karya mereka tidak bermaksud untuk mengkritik awalnya, represntasi kegelisahan yang menghasilkan sebuah karya seperti itu.

Mungkin cara tersebut dapat di tanamkan dalam jiwa para musisi indonesia, agar dapat menghidupkan kembali jiwa kritik masayarakat terhadap kinerja pemerintah, agar pemerinntah dan masyarakat dapat bersinergi  membangun indonesia ke arah yang lebih baik.

Membanggakan sebuah karya (Mengkritik)

Walau indonesia  sempat di pimpin oleh Rezim Orde Baru yang totalitarian, yang dimana keberadaan untuk berpendapat sangat lah suatu hal yang berbahaya, apalagi dengan mengkritik. Walau begitu patut turut kita banggakan terhadap musisi – musisi yang melahirkan karya dengan beraninya untuk  mengkritik pemerintah, Iwan Fals misalnya salah satu yang sangat vokal mengkritik rezim tersebut.

Banyak karya yang di hasilkan dari musisi yang akrab di panggil Bang Iwan ini, tetapi menurut saya ia  lebih di kenal sebagai sosok musisi  yang pemberani. Buktinya pada zaman Orba yang berendapat bagi sebagian kalangan masih terasa untuk segan, berbeda halnya dengan bang Iwan ini. ia malah melahirkan sebuah karya yang menamparkan sebuah pemerintah pada masa itu, salah satu karynaya ialah Bento. Karya tersebut di sinyalir bentuk suatu reprenstatif bang Iwan terhadap Soeharto, Namaku Bento, rumah real estate, Mobilku banyak, harta melimpah. Itu merupakan penggalan lirik lagu tersebut yang menggambarkan kehidupan Soeharto. Di sisi lain Bento merupakan kepanjangan dari Benny Soeharto.

Selain Bento, Galang Rambu Anarki, Jangan Bicara, dan masih banyak lagi yang menjadi karya kritikan beliau. Dengan menggunakan diksi kata yang mudah dicerna, dan alunan musik yang bersinergi, karya Iwan Fals dapat menumbuhkan gelora semangat bagi pendengarnya. Maka dari itulah pada tahun 2002, bang Iwan terpilih oleh majalah Time menjadi kategori Asian Heroes.

Pada masa kini, memang para musisi mulai mengikuti trend pasar dengan meninggalkan musikalisasi kritik, tetapi sebagian musisi masih berada pada jalannya walau berada di sisi yang sepi. Salah satunya dari jalur Indie selain Efek Rumah Kaca, karya dari Banda Neira yang berjudul Tini dan Yanti merupakan karya yang patut di apresiasi menurut saya. lagu tersebut di ciptakan oleh Eks tahanan politik 65, yang di adopsi kembali oleh Banda Neira yang baru saja di rilis albumnya pada 30 januari lalu. Lagu tersebut patut di apresiasi karena dapat menghadirkan nuansanisme tahan politik 65 tersebut, salah satu penggelan liriknya ialah La historia me absolvera, kalimat dalam bahasa spanyol yang artinya “sejarah akan membebaskanku”.

Industri musik nasional saat ini memang berkiblat pada pasar dan pengusaha, tetapi yang perlu di tekankan di sini ialah perlu adanya inisiatif dari para musisi untuk merevolusi industri musik nasional. Musikalisasi kritik itu perlu di lahirkan, di samping untuk mengoreksi kinerja pemerintah, kritikan dalam bentuk balutan nada tersebut akan mengihudupkan jiwa – jiwa kritik di masyarakat, karena masyarakat yang bermoral rendah memandang musik hanya sebagai sarana hiburan dan alat bersenang-senang. Terlebih, musik mampu membuat suatu negara memiliki kekuatan yang besar serta kejayaan, sebaliknya musik juga mampu mendorong kejahatan dan meruntuhkan pemerintahan seperti kata Plato.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>