Kajian FIlsafat Lacan dalam Film Disney “Frozen”

Standard

Oleh: Teuku Ramzy Farrazy, Ilmu Hubungan Internasional (2011) [i]

Salah satu dari pada pelbagai provokasi Lacan[ii] yang paling terkenal adalah “Kekurangan ialah Ibu dari hasrat.” Yang kemudian berkesinambungan dengan “woman does not exist”.  Tampaknya hal ini perlu lebih lanjut ditelisik guna memahami seksuasi. Formula ini seringkali disalahpahami sebagai sesuatu yang antifeminis atau bahkan misoginis.[iii]  Padahal, pemikiran ini tak lebih dari sebuah kajian Etika. Lantas, apa hubungannya dengan film Box Office Disney Frozen?

Frozen (2013) adalah film animasi 3D atau tiga dimensi produksi Walt Disney Pictures (Amerika Serikat) yang pada dasarnya diadaptasi dari dongeng anak-anak The Snow Queen mahakarya Hans Christian Andersen. Dalam film ini, diceritakan sepasang adik kakak Elsa dan Anna yang terjebak dalam suatu relasi yang rumit, dan mengakibatkan marabahaya setiap kali Anna mendekati kakaknya, Elsa. Sesungguhnya, film ini mengisahkan sebuah konsep kastrasi dari jouissance, pergumulan dalam sebuah ‘lackness’ atau kekurangan.

Sebelum masuk lebih jauh ke dalam Konsep Jouissance dalam Frozen, mari kita terlebih dahulu membahas mengenai konsep pemikiran Lacan.

Sekilas Pemikiran Lacan

Dalam pemikiran Lacan, laki-laki dan perempuan didefinisikan secara berbeda oleh sebuah tatanan simbolik (the symbolic ). The Symbolic secara khusus berada dalam fungsi falus (simbol dari hasrat). Seperti apa fungsi Falus? Dalam psikoanalisis Freud, definisi laki-laki dan perempuan dilakukan dengan menggunakan patokan anatomi-biologis. Fase oral, anal dan genital terjadi secara paralel dengan berujung pada perbandingan traumatis (laki-laki menemukan bahwa dirinya adalah laki-laki saat ia menemukan penis; sementara perempuan menemukan dirinya adalah seorang perempuan ketika ia tidak berpenis).  Disinilah perempuan memiliki Castration fear, bahwa ia berhasrat untuk memiliki penis (penis envy) dan laki-laki kemudian takut untuk kehilangan penis tersebut. Menurutnya, terjadi sebuah evolusi penis[iv] yang kemudian menjadi falus saja. Karena tidak ada kekurangan pada tubuh perempuan, melainkan permasalahan ada pada instansi the imaginary. Apa itu imaginary?

Dalam psikoanalisis Lacan dikenal tiga tlatah utama:

  1. The real
  2. The symbolic
  3. The imaginary

The real adalah dunia realitas sebelum dikenalnya bahasa (ex -ist), maka bisa dikatakan ia sebenarnya antara ada dan tiada. The symbolic adalah realitas dimana sudah dikenalnya bahasa. The imaginary merupakan ekses dimana the symbolic tidak mampu untuk menamai the real. Hubungan ini diistilahkan sebagai “ketika anda menemukan kata, maka anda membunuh benda-benda yang diwakilinya”.

Konsep berikutnya dari Lacan yaitu konsep lackness being.  Konsep ini berarti manusia berkekurangan dalam dua artian: Pertama, ketercerabutannya dari the real ketika memasuki ranah the symbolic. Sebuah kerinduan terhadap kondisi primordial yang dialami selama dalam kandungan ibu.  Yang kedua, penemuan ego dalam fase cermin. Sebuah subjek menemukan citra dirinya yang utuh dan otentik, bukan sebuah citra yang dibentuk oleh hasrat orang lain (orangtua/keluarga), subjek menemukan sebuah ‘aku’ yang telah lama teralienasi.

Sebuah perumpamaan menarik, mengapa seorang bayi merasa perlu belajar berjalan dan lain sebagainya, di saat kebutuhan utamanya selalu terpenuhi oleh sang Ibu (termasuk tidak perlunya berjalan kaki – dalam hal ini digendong oleh sang Ibu)? Karena tanpa ‘lack’, subjek tidak akan pernah menjadi makhluk. Simpelnya, Falus adalah penanda hasrat; sementara Kastrasi adalah penanda pemotongan hasrat tersebut.

Jouissance (enjoyment) adalah sebuah hal yang dicari atau ingin dipenuhi sebagai kompensasi atau substitusi kehilangannya kesatuan antara dua subjek.  Jouissance juga dapat disebut sebagai produk dari trauma, kerinduan mendapat segala kenyamanan yang pernah ada. Jouissance berbeda dengan libido. Jouissance hadir dengan prasyarat adanya konsep pain-pleasure.

Maka, dapat disimpulkan bahwasanya lackness merupakan konsekuensi apabila subjek memasuki fase the symbolic dan kastrasi menandai sebuah momen hilangnya jouissance.  Kastrasi adalah syarat dan kondisi untuk mencintai. Hanya yang kehilangan, kekurangan dan tidak lengkaplah yang dapat mencintai.

Kekurangan Adalah Ibu dari Hasrat

“Kingdom of isolation and it looks like I’m the Queen.”  – penggalan lirik lagu “Let it Go”, Original Soundtrack Frozen oleh Demi Lovato.

Dalam studi kasus animasi Frozen (2013), dikisahkan bahwasanya di Kerajaan Arandelle, hiduplah dua orang putri cantik Elsa dan Anna, yang orangtuanya mangkat dalam sebuah kecelakaan. Elsa, yang sedari kecil memiliki sebuah gift – apapun yang ia sentuh akan menjadi es – memutuskan untuk menjauh dari Anna, dikarenakan ia pernah membuat Anna celaka, secara tidak sengaja, saat bermain bersama.

Sampai keduanya bertumbuh dewasa, Anna akhirnya dapat bertemu dengan Elsa, untuk merayakan penobatan. Namun ternyata penobatan ini terusik dengan ketidakmampuan Elsa mengontrol kekuatan yang ada dalam dirinya – kekacauan terjadi dan penduduk Arandelle mengira bahwa ia dikutuk. Elsa memutuskan untuk meninggalkan Arandelle dan membangun kerajaan Es, jauh di tempat lain. Sementara ia pergi, Arandelle diambilalih oleh seorang pangeran licik dan Anna memutuskan untuk mencari Elsa, dengan bantuan teman-temannya.

Elsa, yang memasuki sebuah “kingdom of isolation” atau kerajaan yang terasing, secara sadar telah mengasingkan dirinya sendiri selama bertahun-tahun lamanya, ditambah lagi keputusannya untuk mengalienasi dirinya ke dalam sebuah kerajaan Es yang ia bangun sendiri. Karakter Elsa dalam tragedy-komfrontasi ini merepresentasikan pelampauan fantasi dari pengalaman yang ia alami, hal yang sama juga berlaku kepada Anna, yang menjalin relasi saudari yang canggung dengan kakaknya sendiri.

Anna, sedari kecil sudah memposisikan dirinya sebagai bumper penahan fantasi atas lack dari kakaknya. Maka, Anna memposisikan dirinya dalam kastrasi: mengorbankan jouissance seorang saudari. Anna kecil menyadari hal ini, namun bukannya melakukan hal yang sama, Anna tidak pernah berhenti mengajak dan merangkul Elsa untuk membuat boneka salju (Do you want to build a snowman?)

Konsep Falus dalam Frozen dimainkan oleh pangeran Hans yang ternyata diam-diam menginginkan kerajaan Arandelle dengan mendekati dan mengelabui Anna, hanya dalam waktu perkenalan singkat, ia berhasil memikat Anna.  Bagi Anna, Hans adalah pemuas hasratnya akan kebahagiaan, sedangkan bagi Elsa, Hans adalah sumber keburukan, represi, intrik dan bermaksud politis.  Kerumitan ini akhirnya terlampaui ketika Elsa, dengan cintanya, berhasil menyelamatkan Anna yang membeku kedinginan, Anna dan Elsa yang berhasil mengalahkan Hans, keluar dari fungsi falusnya dan berhasil melampaui  kastrasinya, berintegrasi dalam entitas satu saudari. Dalam hal ini, Anna dan Elsa memasuki suatu identifikasi baru, sebagai saudari (setelah bertahun lamanya terisolir).

Berdasarkan filosofi Lacan, laki-laki (dalam hal ini pangeran Hans) adalah subjek pengecut.  Secara eksplisit Frozen menjelaskan bahwasanya laki-laki hanya eksis karena fungsi figure ‘sang bapak’ atau primordial father. Hans, yang terjebak dalam logika having (memiliki) namun Elsa ternyata keluar sebagai perempuan yang sejati, tanpa terjerembab menjadi ‘the postiche woman’.[v] Maka, Lacan mengajarkan kita untuk menghadapi dan mengatasi deadlock atau kebuntuan – mengatasi simbolisasi – dalam kerumitan relasi yang kita miliki serta mencapai sebuah kebebasan paripurna. Menurut penulis, di sinilah Elsa dan Anna, sebagai perempuan sekaligus saudari, berhasil keluar menjadi subjek sekaligus menenggelamkan the symbolic.  Frozen, dalam hal ini berhasil menampilkan sebuah seksuasi yang menarik sekaligus mendidik dan mengajarkan sebuah pemberdayaan, dua saudari yang berani melompat tinggi melampaui kebuntuan.

[i] Anggota perkumpulan Suara Kita

[ii] Jacques Lacan (1901 – 1981), filsuf, psikiatris dan post – strukturalis Perancis terkemuka.

[iii] Anti terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan perempuan.

[iv] Jacques Lacan, Ecrits: A Selection (Bristol: Routledge Publisher, 1977), 289.

[v] Perempuan palsu yang menuntut kompensasi terhadap kekurangan yang ia derita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>