Peran Media Massa di Pra Pemilu 2014

Standard

Oleh : Achmad Al Fiqri, Ilmu Komunikasi Unas (2014)

Media massa memang sangat berpengaruh bagi kehidupan, tidak bisa dipungkiri lagi, dari media media bisa mengubah fikiran suatu masyarakat. Seperti kata Jim Morrison, “Whoever control the media, control the mind”. Dan pada bulan-bulan lalu, banyak politisi memanfaatkan media untuk mencari atau mengambil hati rakyat, bahkan dengan cara menjatuhkan saingannya melalui media massa.

Pemilu 2014 menjadi ajang yang sangat alot bagi kedua kubu, antara kubu indonesia hebat dengan kubu merah putih. Mereka berlomba – lomba dengan segala cara untuk bisa mendapatkan suara pada saat pemilu berlangsung. Media merupakan suatu solusi alternatif bagi mereka untuk mengambil perhatian rakyat. ditambah para kandidat  dimasing – masing kubu memiliki suatu perusahaan media massa. Kondisi seperti ini menjadi sangat rentan untuk menimbulkan persaingan yang tidak sehat.

Dengan segala cara yang mereka lakukan, tanpa memikirkan dampak kedepannya, mereka menggunakan media untuk menjatuhkan lawannya sendiri. Dari sini peran media massa dinilai sangat amat buruk bagi kalangan pengamat media. Media massa dinilai jauh dari sifatnya yang harus bersifat netral. Media massa udah kehilangan arah yang disesatkan para politisi – politisi yang sibuk mencuri perhatian rakyat. Karena seperti yang kita tahu, dalam teori komunikasi pada teori jarum suntik (Hypodermic Needle Theory) yang dimana pesan yang disampaikan oleh media ditelan bulat-bulat oleh khalayak, membuat media massa salahsatunya stasiun televesi menjadi suatu peluang yang bagus untuk mendapatkan hati masyarakat.

Hal ini menimbulkan pertanyaan kepada Komisi Penyiaran Indonesia. Kemana mereka? Apakah mereka  sudah menjalankan fungsinya dengan baik? Dalam kondisi seperti ini seharusnya Komisi Penyiaran Indonesia ikut berperan dan mengambil tindakan tegas, dengan peringatan atau mencabut hak siarnya. Agar kelak media kembali menjadi perwakilan rakyat yang  para politisi sadar akan persaingan yang sehat, dan masyarakat tidak tersesatkan akan informasi – informasi sesat yang diproduksi oleh oknum dari media tersebut.

Banyak pemberitaan yang kurang baik dan disebarluaskan ke masyarakat, inilah salah satu gambaran peran media massa pada pemilu 2014. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat  harus mempunyai kemampuan untuk memilah dan cermat dalam menerima suatu pemberitaan di media. Salah satunya perlu adanya pembelajaran masyarakat akan pentingnya literasi media, yaitu suatu kemampuan untuk menganalisis isi media, mengkritisi media massa, yang nantinya dapat berkonstribusi dalam meluruskan kembali fungsi media massa yaitu sebagai fungsi pengawasan, fungsi pendidikan dan fungsi hiburan.

Dan juga bagi para jurnalis harus menanamkan jiwa keterbukaan dalam menyampaikan suatu laporan berita. KPI dan Dewan Pers seharusnya lebih aktif lagi dalam mengawasi maupun memberi peringatan bagi media yang terbukti melenceng dari fungsinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>