BAHASA JURNALISTIK

Standard

Oleh : Lorenzo Alkahfi, Ilmu Komunikasi Unas (2014)

Jurnalistik selalu diidentikkan dengan wartawan. Wartawan selalu identik dengan berita. Berita selalu disamakan artinya dengan informasi. Bicara tentang jurnalistik berarti bicara tentang informasi. Demikian, hal tersebut tak sepenuhnya benar. Jika jurnalistik hanya disejajarkan dengan informasi saja, maka sesungguhnya kinerja jurnalistik tidaklah maksimal karena informasi saja tidak dapat disebut sebagai karya jurnalistik. Selain itu, sesungguhnya kinerja jurnalistik sangat berkaitan dengan proses penyampaian informasi dari media kepada khalayak.

Menurut saya menjadi seorang jurnalis harus kreatif, memiliki rasa keingintahuan terhadap sesuatu hal yang menarik,yang baru dan bisa dijadikan sebagai informasi yang menarik. Jurnalis juga layak mempunyai rasa keraguan karena sepatutnya menjadi hal yang sangat penting bagi jurnalis. Dalam berita-berita itu ,tidak hanya menarik, tapi seorang jurnalis harus mampu dan bisa menggunakan bahasa yang bisa dimengerti oleh publik, karena terkadang tidak hanya orang-orang yang penting yang akan membaca dan mencari informasi-informasi terbaru. Jadi, seorang jurnalis harus bisa menyesuaikan bahasa yang digunakan tersebut.

Bahasa Jurnalistik adalah gaya bahasa yang digunakan wartawan dalam menulis berita. Disebut juga Bahasa Komunikasi Massa, yakni bahasa yang digunakan dalam komunikasi melalui media massa, baik komunikasi lisan di media elektronik (radio dan TV) maupun komunikasi tertulis (media cetak dan online), dengan ciri khas singkat, padat, dan mudah dipahami. ada empat karakteristik yang menyebabkan lahirnya Bahasa Indonesia Ragam Jurnalistik (Bachtiar, 2000).

Pertama, pekerjaan wartawan dan redaksi selalu berpacu dengan waktu. Kedua, panjang tulisan/laporan jurnalistik dibatasi oleh halaman media cetak, durasi siaran media elektronik, atau lebar layar monitor pada media internet. Ketiga, jumlah media di Indonesia kini berjumlah ribuan sehingga persaingan antaramedia kian ketat, hanya laporan yang enak dibaca/didengar yang akan diakses oleh masyarakat. Keempat, tulisan jurnalistik merupakan fakta, sehingga jurnalis tidak perlu menulis berita dengan bahasa yang muluk-muluk atau mendayu-dayu seperti pada cerita fiksi/karya sastra.

Bahasa Jurnalistik memiliki dua ciri utama yaitu komunikatif dan spesifik. Komunikatif artinya langsung ke pokok persoalan, bermakna tunggal, tidak konotatif, tidak bertele-tele, dan tanpa basa-basi. Spesifik artinya mempunyai gaya penulisan tersendiri, yaitu kalimatnya pendek-pendek, kata-katanya jelas, dan mudah dimengerti orang awam. Jurnalistik juga memiliki sifat-sifat khas yaitu singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, lancar dan jelas. Oleh karena itu, bahasa dalam penulisan berita oleh seorang jurnalis haruslah diperhatikan dan semenarik mungkin agar berita yang disajikan dapat dinikmati oleh masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>